Sabtu, 12 November 2016

MUTUNG

Aku hanya bisa terdiam
Melihat kau pergi dari sisiku
Dari sampingku
Tinggalkan aku seakan semuanya
Yang pernah terjadi
Tak lagi kau rasa
r
Tuan, ceritakanalah kepada saya tentang apa-apa yang engkau ketahui mengenai perempuan dan saya akan mendengarkan sampai usai dan sampai. Kala itu hari Rabu. Satu hari sebelum ibu berumur 45 dan cuaca baik-baik saja. Matahari tidak terlampau terik, juga tidak mendung. Awan bergumul tapi tidak sampai birahi. Agak sedikit kehitam-hitaman memang, hanya saja tidak sampai hujan, setidaknya belum. Tuan, ceritakanlah kepada saya tentang apa-apa yang engkau ketahui mengenai perempuan dan saya akan mendengarkan sampai usai dan sampai. Namun, sebelum engkau bercerita, izinkanlah saya mengisahkan satu kisah lama dan usang. Tidak apa-apa jikalau Tuan bosan. Kebosanan memang fitrah manusia. Kebosanan terhadap hidup, tapi tidak dengan takdir. Kebosanan terhadap nasib, tapi tidak dengan perasaan. Alangkah lebih menyenangkan jika percakapan ini ditemani beberapa bungkus rokok. Saya kira Tuan akan membutuhkannya. Dan juga setumpuk catatan harian tentang sajak-sajak serta buku. Kalau boleh, pesankan saya satu kaleng bir. Orang-orang bilang rasanya nikmat dan bir mampu melawan takdir meski sebentar sekali. Djenar juga bilang, kita bisa memesan bir tapi kita tidak bisa memesan takdir. Tuan, pesankanlah saya satu kaleng bir untuk menahan takdir.
Tak pernah sedikit pun
Aku bayangkan betapa hebatnya
Cinta yang kau tanamkan

Selamat siang. Kira-kira satu setengah tahun. Cukup lama atau cukup singkat kah ? Sepanjang waktu banyak sekali kejadian, peringatan, kebahagiaan, kesedihan, kebingunggan, kehampaan, kehilangan, ketidakjelasan, umpatan, dan kenangan. Saya tidak akan menceritakan, bagian ini terlampau membosankan. Sungguh. Tapi, sebentar Tuan, kita berkenalan kembali belum terlampau lama bukan ? Kita pernah berkenalan sekali lalu berpisah. Beberapa minggu yang lalu kita kembali bertemu dan berkenalan lagi dan mungkin akan berpisah lagi, meski saya sendiri tidak ingin. Ada perubahan pada diri Tuan. Tuan lebih ramah dan lebih romantis ketimbang dulu. Sejujurnya saya suka Tuan yang sekarang, namun saya benci perubahan. Tuan tidak seharusnya berubah. Seperti yang dulu itu saja, sudah. Tidak ada yang perlu dirubah, Tuan. Perubahan hanya untuk kaum bar-bar, dan untuk saya salah satunya. Sebab antara saya dan inlander yang katanya bar-bar tidak terlampau jauh berbeda, khususnya tentang hidup. Saya memnag butuh perubahan seperti yang Tuan katakan diperjumpaan kita yang kedua. Sejujurnya, saya terkejut dengan perubahan Tuan. Saya tidak tahu kenapa Tuan bisa berubah demikian. Saya betul-betul tidak tahu, setidaknya sampai hari Rabu. Saat satu hari sebelum ibu berumur 45 dan cuaca baik-baik saja. Oh Tuan, sungguh saya sudah menduga dari awal. Sisi perempuan saya masih bekerja sebagian dan rusak sebagian. Saya katakan demikian karena apa yang saya duga ternyata benar. Berarti sisi sensitif perempuan saya bekerja. Sayangnya, apa yang saya percaya ternyata salah. Disitu saya merasa keperempuanan saya rusak sebagian. Kalau Tuan ingat, saya pernah bertanya seperti ini. “Tuan, apakah salah jika saya mempercayai suatu hal ?” Tuan katakan tidak. Dan saya pun memepercayai apa yang saya percayai. Nyata-nyata nya perempuan juga bisa salah. Saya hanya terdiam, ketika apa yang saya percayai tidak seperti yang saya percayai. Ah, jancuk !!

Hingga waktu beranjak pergi
Kau mampu hancurkan hatiku


Tuan, ceritakanalah kepada saya tentang apa-apa yang engkau ketahui mengenai perempuan dan saya akan mendengarkan sampai usai dan sampai. Tuan, saya kira anda sangat paham bahwa perempuan senang dibohongi, tapi marah bila tahu ia sedang dibohongi. Saya kurang lebih seperti itu juga. Saya suka dongeng,saya suka cerita. Saya menyukai kebohongan dan hal-hal yang dibuat-buat bila tidak tentang perasaan, Tuan. Jangan potong saya dulu, saya perempuan. Harus didahulukan berbicara. Anda mungkin bertanya mengapa perempuan melulu mambawa perasaan. Hanya sebab satu hal, Tuan. Tuhan menciptakan perempuan lebih jauh kuat ketimbang lelaki, terlebih pada perasaanya. Jangan salahkan pernyataan saya, saya perempuan. Tidak boleh disalahkan apalagi disalah-salahkan. Jawablah, Tuan. Atau saya akan menangis.Tapi tunggu, anda pernah mengatakan bahwa saya tidak boleh cengeng, saya tidak boleh menangis. Saya dilarang menagis diluar pelukan, Tuan. Oh jancukku, pernyataan macam apa itu, sayang ? Saya kira Tuan tidak sadar pernah berkata demikian. Saya berterimaksih karna Tuan selalu berusaha membuat saya tersenyum akhir-akhir ini, meski Tuan berbohong kepada diri Tuan dan kepada saya. Saya tidak marah, Tuan. Saya tidak kecewa. Saya hanya sedikit kesal, mengapa Tuan berbohong, sedang Tuan melarang saya berbohong.
Ada yang hilang dari perasaanku
Yang terlanjur sudah
Kuberikan padamu
Ternyata aku tak berarti tanpamu
Berharap kau tetap di sini
Berharap dan berharap lagi


Tuan, saya hanya salah seorang perempuan yang memiliki perasaan yang berlebih kepada Tuan.  Saya pun tidak pernah merencanakan untuk bertemu Tuan, apalagi sampai memiliki perasaan. Rasa-rasanya saja sudah ampun saya. Dari awal, saya cuma ingin menyampaikan nya saja. Bukan minta balasan. Jangan dibalas, saya belum butuh itu sekarang. Kalau nanti ? Oalah, jalan hidup kita masih panjang. Bisa saja ada orang lain yang membalasnya. Tuhan tahu yang terbaik buat kita. Tuan juga pernah mengatakan hal itu.  Tuan, jangan dibalas, bila tidak ingin. Perasan itu bukan tanah jajahan, ia tidak bisa dipaksa. Perasaan itu sakral, Tuan. Jangan dibongi, jangan dipaksakan, dan jangan dipermainkan perasaan Tuan sendiri. Tuan pernah bertanya kepada saya tentang hal yang saya inginkan dari Tuan. Saya akan menjawabnya sekarang. Saya hanya ingin Tuan bahagia. Tidaka ada selain itu yang saya minta. Tuan, ceritakanalah kepada saya tentang apa-apa yang engkau ketahui mengenai perempuan dan saya akan mendengarkan sampai usai dan sampai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Left a comment if you want ^^