Selasa, 23 Februari 2016

MEMILIKI DAN MEMBENCI ITU BISA SEKALIGUS



Ada beberapa hal yang pasti kita sangat inginkan di dunia ini, sekaligus ada hal-hal yang sangat kita benci di dunia ini. Tuhan Mahaadil. Dia menciptakan sesuatu yang boleh jadi sangat kita sayangi dan kita inginkan, namun Dia juga menciptakan hal yang sangat kita benci atau istilah halusnya hal-hal yang tidak kita sukai dalam hidup. Tapi bagiku, aku mencintai bahkan menginginkan beberapa hal, sekaligus sangat membencinya. Jujur saja, aku sangat membenci UANG DAN WAKTU tapi tanpa mau munafik sedikitpun aku sangat menginginkan keduanya. Aku mencintai sekaligus membenci UANG DAN WAKTU. 

1.UANG
Siapa yang tak tahu dengan uang ? Bahkan sebodoh-bodohnya orang di dunia ini, mereka pasti mengenal yang namanya uang alias duit alias money alias hepeng alias pitih alias entahlah, apapun namanya yang jelas semua orang di dunia ini membutuhkan uang. Suatu benda dengan bentuk bundar dan terbuat dari logam atau kuningan atau terbuat dari kertas dengan bentuk persegi panjang, tidak berukuran lebih besar dari keras HVS dan biasanya bergambar orang-orang penting atau pahlawan di suatu negara ini sangat vital keberadaannya di kehidupan manusia. Benda yang baru Indonesia kenal sejak zaman kolonial Belanda ini mampu mengendalikan dunia. Percaya atau tidak ? Tapi percayalah karna memang begitulah adanya. Adalah benda yang setiap orang rela melakukan apa saja demi mendapatkannya, baik dengan cara yang wajar, bagus, dan halal maupun dengan cara kotor bahkan terkadang malah tidak masuk akal. Hanya sebuah kertas  bergambar pahlawan dengan nominal angka mampu mengendalikan manusia yang mempunyai akal pikiran. Aku kira, ayolah !! Ini Cuma sebuah kertas. Cuma ? Semua budak-budak uang mana kenal lagi dengan kata “Cuma” kertas yang diakui sebagai alat pembayaran yang sah secara hukum.

Aku BENCI uang. Pernyataan ini aku ucapkan dengan sadar sesadar-sadarnya tanpa mabuk tau dibawah tekanan atau kalian pikir aku sedang gila. Tidak ! Aku sadar dan waras menuliskan hal ini. Ada banyak hal dan alasan mengapa aku membenci uang. Mungkin beberapa dapat uraikan disini.
Alasan pertama : Benda ini membawa petaka. Ya, benda ini membawa petaka. Pernah mendengar atau melihat atau mengalami sendiri tentang banyak sekali tindakan kejahatan yang dilakukan hanya dikarenakan benda ini ? Banyak orang yang melakukan pembunuhan, penyiksaan, penipuan, kekerasan, bahkan melakukan hal yang tidak berperikemanusiaan hanya untuk mendapat uang, sebuah benda yang bahkan bergerak saja tidak bisa. Kita rela menanggalkan identitas kita sebagai manusia hanya untuk uang. Kenapa aku berkata demikian ? Ya bahkan terkadang makhluk yang dikaruniai oleh Tuhan dengan akal, pikiran dan perasaan rela membuang itu semua hanya demi uang. Seorang ayah atau ibu yang tega menjual anaknya hanya untuk uang atau sekedar pelepas hutang, seorang manusia yang tega membunuh, merampok, memperkosa orang lain hanya demi benda ini. Atau seorang yang rela menzolimi manusia lain nya hanya demi uang. Tak perlu jauh-jauh, lihat saja manusia-manusia dengan janji suci namun ingkar yang mungkin sekarang tengah tidur enak di rumah dinasnya. Atau seorang guru atau tenaga pendidik yang hanya mau mengajar dan mengabdi jika ada uang. Lantas kemakah identitas kita sebagai manusia ? Dimana nurani kita ? Dimana akal kita ? Diamana perasaan kita ? Dimana identitas dan ciri yang menyatakan bahwa kita manusia ? Sadarkah kita bahwa uang merampas identitas kita sebagai manusia ? Ada lebih dari 30% orang melakukan tindakan kejahatan, menanggalkan identitas sebagai makhluk berakal dan berperasaan hanya demi uang. Lalu terimakah kalian jika aku katakana bahwa benda ini membawa petaka ?
Alasan kedua : Benda ini menawarkan kebahagiaan semu. Mindset paling dasar di dalam kepala kita adalah : “Jika aku punya banyak uang, aku pasti bahagia” Dogma seperti ini tidak 100% benar, ya meskipun aku tak memungkiri bahwa aku pun merasa bahagia jika punya banyak uang, tapi kebahagiaan yang kita rasakan hanyalah semu. Bukan kebahagiaan hakiki yang seperti kita cari. Kebahagiaan karna uang hanya sesaat, setelah itu ? Semua kebahagiaan itu akan menguap. Percayalah. Uang  bukan sumber kebahagiaan. Pernah kau bayangkan perasaan seorang anak yang ditinggal siang malam oleh Ibu bapaknya hanya untuk uang ? Mereka pikir dengan uang yang melimpah anak-anak mereka bahagia ? Untuk beberapa hal mungkin jawabannya adalah Ya. Sebab mereka dapat membeli apapun yang mereka inginkan, dapat makan apapun yang mereka inginkan, dapat mencoba apapun yang mereka inginkan, dapat berlibur kemanapun yang mereka inginkan. Ingat ? Ini hanya sesaat lalu menguap. Lalu kemana kebahagiaan yang bersumber dari ayah ibu mereka ? Pernah berpikir kesana ? Bisakah uang yang katanya sumber kebahagiaan itu mengajari kamu berhitung dari 1-10 ? Kau pasti jawab bisa. Tinggal sewa guru semua beres. Tapi apakah rasanya sama ketika kau diajarkan oleh seorang guru atau diajarkan oleh ibumu sebelum tidur ? Rasanya tidak akan pernah sama kecuali guru itu ibumu. Rasa itu soal lain. Rasa tak akan pernah bisa berbohong, perasaan akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi meskipun mulut malah memutarbalikannnya. Atau bisakah uang mengajak mu bermain bola diluar rumah  atau uang mengajarkan mu naik sepeda ? Atau mungkin uang juga bisa mengelus dan mengobati luka yang kau dapat saat jatuh ketika bermain diluar rumah ? Jawaban nya BISA saja, tapi rasa yang diberikannya berbeda. Tak ada bahagia, tak ada rasa. Sebanyak apapun uang yang kau punya, percayalah pada gadis ini bahwa kau tak akan pernah bisa membeli sepotong rasa.
Alasan Ketiga : Uang itu biang keladi perkelahian. Pernah mengalami nya ? Contoh sederhananya adalah ketika kamu dengan adikmu berdebat kusir tentang uang jajan. Kenapa uang jajan kakak lebih banyak ? Pernah mengalami ini ? Ini baru contoh sederhana yang tidak sampai menyebabkan pertumpahan darah. Hanya sekedar cekcok mulut biasa. Tapi pernah kalian bayangkan bahwa hanya karna benda tak bernyawa ini ayah bertengkar dengan ibu ? Bahkan saling caci maki hingga tak jarang ada kekerasan. Hidup butuh uang, sedang perekonomian keluarga tidak begitu lancar. Hidup susah, kebutuhan banyak, sedang uang tak ada. Ujung-ujungnya malah bertengakar. Atau bahkan saudara satu ibu satu ayah yang saling angkat parang hanya karna uang. Pembagian warisan atau segala macam yang berkatian dengan uang. Benda ini sumber maslah benda ini sumber petaka bahkan benda ini aku kira terkutuk.
Sekali lagi aku katakan, aku BENCI uang tapi aku juga sangat menginginkannya. Sebab hanya dengan uang kita mampu bertahan. Sebab dengan uang kita bisa memenuhi kebutuhan, sebab dengan uang aku bisa beli buku, sebab dengan uang aku bisa berpendidikan, sebab dengan uang dunia juga mampu ku taklukan, semua tersebab karna uang. Karna uang kau dihormati, karna uang juga kau dihargai. Dengan uang bahkan harga diri orang lain pun mampu kau beli. Uang bagiku memang bukan segalanya, tapi uang adalah prioritas. Aku sudah mencoba betapa manisnya rasa uang, betapa pahitnya rasa uang. Meskipun benda itu berwujud sama, kertas segi empat dengan gambar pahlawan dan nominal tertentu tapi banyak cerita dan rasa yang ada disetiap helaian kertas yang bernama uang. Aku benci uang tapi aku sangat menginginkannya. Tuhan kenapa kami hidup untuk uang ?

2. WAKTU
Hal kedua yang sangat aku benci tapi sangat aku cintai adalah waktu. Berbicara mengenai waktu, aku terigat dengan postingan ku yang terakhir. Tentang aku mengiginkan waktu seseorang. Aku menginkan waktu, sangat menginginkannya sebab aku kira waktu malah lebih berharga daripada uang. Dengan waktu yang cukup kau bisa melakukan segala nya. Bermain, ngobrol, makan, tidur, belajar, bahkan dengan waktu kau juga akan mendapat kebahagiaan. Nikmat mana lagi yang kau dustakan saat kau mempunyai waktu dengan orang yang sangat kau cintai ? Kebahagiaan dunia yang tak tertandingi bukan ? Waktu itu adalah sesuatu yang mahal dan sangat berharga. Kau bayangkan betapa berharganya sepersekian detik waktu dalam pertandingan marathon. Atau betapa berharganya waktu dalam detik-detik selamat dari sebuah kecelakaan ? Atau betapa berharganya waktu yang sempat kita habiskan bersama ketika kita memiliki waktu yang cukup ?

Berbicara mengenai waktu, berbicara mengenai kebahagiaan, berbicara pula mengenai kesakitan.

Bukankah sudah ku katakana bahwa aku mencintai sekaligus membenci waktu bukan ? Aku membenci waktu sebab disini aku terkadang merasa kesepian, aku merasa tidak bisa terlepas dari keindahan masa lalu atau istilah nya “gagal move on” atau karena waktu aku malah merasa tidak bermakna.
Sebuah waktu akan terasa indah sekali saat kita mampu mengguakannya dengan orang yang kita sayang. Waktu akan tersa sangat indah. Namun lain halnya jika waktu malah tidak berpihak padamu. Kau bayangkan ketika kau memiliki suatu keperluan dengan orang yang super sibuk sekali. Mereka tak akan punya waktu untuk dirimu bahkan untuk diri mereka sendiri mereka tidak punya waktu. Aku membenci waktu kalau begini. Kenapa waktu malah mengekang dan membelenggu diri kita. Seolah-olah waktu yang mengndalikan bukan kita yang mengndalikan waktu. Kesedihan terbesarku adalah saat kau mulai tidak punya waktu. Aku tidak menyalahkanmu tapi aku hanya kecewa pada waktu. Kenapa mesti menyita mu ? Saat aku menginginkan waktu kamu meski sebentar, karna kemaren aku benar-benar membutuhkanmu, tapi waktu tidak mengizinkan. Kamu terlampau sibuk dan kedepannya malah lebih sibuk. Kamu malah akan sering tidak punya waktu. Tak tahukah kamu bahwa tadi malam aku hampir mati ? Kepala ku hampir pecah sebab ku hempas ke dinding karna aku begitu kecewa, karna aku mempunyai masalah yang ingin aku biacarakan pada mu tapi kamu malah tidak punya waktu ? Kamu terlampau sibuk. Kapan kamu punya waktu ? Suatu keajaban sekali kalu kamu punya waktu sekarang. Aku membenci waktu untuk alasan pribadi. Aku merasa sendirian karna waktu ku hanya untuk aku nikamati sendiri. Tak ada ngobrol tak ada diskusi. Waktu kamu tidak ada, atau lebih tepatnya waktu kita tidak ada.

Karna waktu juga aku malah terjebak di kenangan yang indah di masa lalu. Dahulu begini, dahulu begitu, dahulu aku sangat bahagia sekali. Saat tak semua hal berjalan seperti dulu, malah membuat air mata, kesedihan dan kekecawaaan di masa sekarang, Pembandingnya karna dahulu tidak begitu. Waktu itu kamu… waktu itu kita… waktu itu aku bahagia… Kan pada waktu itu ? Karna “pada waktu” itu lah terkadang aku merasa sulit untuk menerima keyataan yang terjadi sekarang. Ini memang kanak-kanak sekali. Ya, aku tahu bahwa kita tidak dapat berpatok pada waktu itu, tapi saat kamu pernah merasakan suatu kebahagiaan luar biasa pada waktu itu, namun sekaranmg kebahagiaan itu malah tidak muncul, percayalah kau akan mengutuki dirimu sendiri dan kejadian pada waktu itu.

Terkadang waktu malah meninggalakan penyesalan-penyelasalan dan mengajarkan kita berandai-andai. Andaikan dua tahun yang lalu kau begini, pasti aku sudah begini. Andaikan kemaren aku melakukannya, pasti sekarang aku sudah …, andaikan seminggu yang lalu aku pergi, pasti tidak begini. Terlampau banyak andaikan. Kita hanya berakhir sebagai seorang pengandai-andai. Tidak berguna kamu berandai-anadai jika tidak ada tindakan. Aku membenci waktu tapi aku sangat menginginkannya. Terlebih sekarang aku meginginkan waktu kamu, waktu orang-orang yang aku sayangi, aku menginginkan waktu yang berpihak padaku, aku menginkan kebahagiaan bersama waktu bukan anda-andai semu. Aku ingin waktu mu. Sebab disamping aku membutuhkan Tuhan untuk hidupku yang lebih baik, aku juga butuh kamu, butuh waktumu.

Minggu, 21 Februari 2016

AKU INGIN WAKTUMU (MUNGKIN)



Aku tak tahu harus memulai tulisan ini darimana. Butuh waktu sekitar 5 menit untuk menuliskan kalimat pertama dan memulai tulisan ini. Entah sinkron atau tidak yang jelas malam ini aku ingin berbicara mengenai waktu atau kurun atau masa atau periode atau apapun lah itu namanya yang jelas aku ingin membeicarakannya. Pun seandainya aku memiliki uang, dan jika hal tersebut bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan, maka aku sangat ingin membeli waktu, menyimpannya banyak sekali. Sebab aku tak ingin kehilangan setiap detik yang tersisa. Kau tahu kenapa ? Sebab kita seolah-olah tidak punya waktu untuk diri kita sendiri, untuk hidup kita sendiri, untuk hati kita sendiri, bahkan untuk rasa kita berdua. Kau dan aku, terlebih-lebih lagi kau yang tidak punya waktu.
Alasan aku ingin membeli waktu adalah aku hanya ingin sejenak kita dapat ngobrol, membicarakan hal-hal tidak penting, atau sekedar jalan-jalan, atau mungkin paling banter sekedar memandang lalu tersenyum. Sayangnya, waktu tidak mengizinkan. Kamu terlampau sibuk. Bukan berarti, beberapa waktu yang lalu kau tidak melakukan hal-hal tadi. Bukan, sekali-kali bukan. Hanya saja sejak acara beberapa minggu yang lalu aku semakin sadar jika waktu yang kamu miliki akan sangat sedikit sekali. Bukan saja untuk ku, bahkan untuk dirimu sendiri pun demikian. Asal kau tahu saja, beberapa hari yang lalu aku mencoba bertaruh dengan waktu. Menunggu di sudut ruangan hanya untuk sekedar melihatmu hari itu, sebab apa ? Sebab kau tak punya waktu barang sebentar untuk duduk ongkang-ongkang kaki atau berjalan-jalan meikmati acara. Kamu terlampau sibuk. Maka, menyiasati nya, waktu yang aku punya lah yang aku pertaruhkan untuk sekedar mengamati mu. Satu minggu yang sudah terlewat beberapa hari yang lalu itu, aku sangat menginginkan waktu kamu meski sebentar. Tak jelas untuk apa, tapi aku menginginkannya. Aku menginginkan waktumu. Ah, aku kira pernyataan ini terlampau egois. Ya, terlampau.
Semakin kesini, semakin sedikit pula waktu mu yang kau punya. Semester ini, dengan segala kegilaan kesibukan yang akan kita alami ke depannya, kau akan semakin sibuk, waktumu akan semakin sedikit dan kau akan makin gila. Lagi-lagi mengenai waktu. Membayangkannya saja, aku malah semakin menginginkan waktumu. Tak perlu lama, cukup sebentar saja. Tapi tentu tak mungkin aku katakan, sebab itu permintaan egois sedang masih banyak hal yang harus kau pikirkan dan kerjakan. Lalu, kapan bisa ku minta waktumu ? Atau bisakah aku membeli waktu mu ? Kemudian dengan apakah akan ku beli waktu mu ? Apakah waktumu bisa ku beli dengan sajak dan puisi ? Aku rasa jawabannya tidak. Lalu, dengan apakah harus ku beli waktumu ? Tapi, apakah kau memang mau menjualnya atau waktu mu hanya untuk … ? Ah, pertanyaan ku makin tidak waras !! Mungkin aku perlu bernegosiasi dengan Tuhan tentang masalah waktu, agar aku dapat mengecup menit-menit yang benar-benar aku inginkan darimu. Agar mungkin kita punya waktu untuk diri kita sendiri, untuk hati kita sendiri dan mungkin untuk rasa kita berdua. Ku katakan sekali lagi, aku ingin waktumu meski sebentar.

Sabtu, 20 Februari 2016

DISFUNGSI PERASA, KEPITING REBUS SAMPAI AKU MAU NIKAH SAJA



Ada kerinduan tersendiri saat beberapa hari ini tidak menulis. Kemudian juga ada ketidakpuasan dan semacam perasaan berdosa sebab aku merasa hanya lewat tulisan sajalah aku mampu berkabar dan berkisah. Mari kita mulai.

Dan Hello World, I get my life back. Yeay !!  Setelah sembuh dari sakit akibat “mungkin” karena beberapa minggu belakangan ini aku sering sekali lupa diri saat mengkonsumsi es krim dan teman-temannya. Al hasil, hari terakhir saat penutupan Pekan raya Biologi (PRB) 2016, aku hanya mampu menikmati dari atas kasur kamar kos. Puas sekali tidur sampai hampir 20 jam. Ada momen yang tertinggal atau mungkin keadaan yang tidak mengizinkan. Tak ada foto bersama dengan seseorang itu. Agak nyesek memang, tapi ya mau bagaimana lagi. Mungkin akan ada kesempatan di lain waktu, dan itu entah kapan. Hahhaha.

Sakit kali ini memang sakit yang aku kira berat. Bukan masalah parah atau tidaknya, sebab ini kali pertama aku merasakan sakit saat jauh dari ibu, jauh dari ayah, dan jauh dari rumah. Ada perasaan sedih tersendiri yang tidak bisa diungkapkan. Ya perempuan kecil ayah ini sangat manja sekali ketika sakit, masih sempat pula aku merengek dan mengingau tengah malam sampai berteriak-teriak memanggil ibu.  Tentu yang dipanggil tak akan datang, menantap dan mengelus-elus rambut mu. Ini momen yang menyedihkan sekali aku rasa. Aku rindu ibu, dan aku rindu rumah. Sampai nafsu makan pun baru kembali kemeren, aku masih menngiginkan masakan ibu, sungguh. Dan juga, keinginan egois saat sakit kemaren adalah aku rindu tidur dipelukan ayah. Meskipun tahun ini aku akan berumur 19 tahun, tapi aku dan adik ku masih gadis kecil ayah dan selamaya akan tetap begitu. Dimanapun ayah akan tetap akan ku peluk dan ku cium sebab laki-laki hebat itu ayah ku. Persetan sajalah dengan kata malu, dia ayah ku, lalu ? Pokoknya sakit kali ini aku kira adalah sakit yang paling menyedihkan, dimana sakit yang kurasakan tidak hanya dibadan namun juga pada perasaan.

Empat hari bertahan dengan alat perasa yang mengalamai disfungsi hingga ia hanya mampu mengecap raasa pahit, lalu berkutat dengan rasa lapar sedang tiap disuguhi makanan yang ada malah ingin dimuntahkan lagi, sampai aku benar-benar mendapatkan nafsu makan ku kembali. Untung saja Cuma empat hari, coba lebih lama, mungkin saja kurus juga aku lama-lama.  Sembuh dari demam, aku malah seperti kepiting rebus. Sebab, semua pori-pori ku seperti lebih besar dan memerah terutama di tangan dan kaki. Jika aku berlama-lama duduk semua darah seolah-olah lari ke kaki dan jika kau melihatnya itu merah sekali seperti kepiting rebus. Terlebih-lebih selesai mandi. Itu malah lebih merah. Ditambah lagi, semua saraf sensori ku serasa lebih aktif. Ransangan sekecil apapun malah terasa sakit bagi ku. Aku rasa, tubuh ini mulai sampai pada keadaan sensitifnya. Entahlah, yang jelas selama aku tidak harus tertidur dan kehilangan nafsu makan lagi serta tidak menghambat ku untuk beraktivitas terutama menulis, aku tidak apa-apa.

Ini minggu yang belum terlalu melelahkan karna kuliah masih santai, terlalu santai malahan. Tapi tunggu saja beberapa minggu lagi, mari kita hitung sebanyak apa kalimat “AKU MAU NIKAH SAJA” akan keluar. Semester 4. WAW Its something I think. Entahlah, yang jelas ada harapan dan perubahan yang sudah direncanakan dan harus dijalankan untuk semester ini. Lupakan tentang semester kemeren. Itu adalah semester tergelap dan semester terkhilaf dalam hidup. Semester dimana banyak sekali terjadi hal yang mengecewakan dan dikecewakan. But Life must go on. Bukan berarti semester kemaren semata-mata dilupakan. Tidak. Hanya kita jadikan cerminan bahwa kemaren sempat menjadi gadis ibu yang degil sedegil-degilnya. (Maafkan, mama) Berhubung ini tulisan yang disambung pagi-pagi, untuk hopes nya menyusul. See Ya :*

Jumat, 12 Februari 2016

PERGI DAN KEMBALI



Tulisan ini dibuat bukan aku ingin mengumbarkan bahwa aku ingin pergi. Tidak sama sekali. Anggap saja tulisan ini tentang cerita mahasiswa semester 4 yang sedang bingung sendiri, sedang mencoba belajar tentang apa arti pelunasan janji. Sungguh aku sedang kalut tingkat mahabrata :D


Akhir-akhir ini aku sering tak mengerti dan bingung sendiri. Aku melakukan banyak hal, tapi aku tak tahu apa alasan aku mengerjakannya. Kemudian aku mengambil suatu keputusan lalu menyesalinya. Atau aku akan memikirkan dan menghayalkan banyak hal yang tidak penting, sedang hal yang penting untuk aku pikirkan dan lakukan malah aku lupakan. Akhir-akhir ini aku sering tidak jelas, sering uring-uringan untuk hal yang absurd. Persis seperti remaja akil baligh yang mulai tidak waras, mulai galau atas sesuatu yang tak seharusnya terlalu dipikirkan , dan tentang masalah remaja yang tak jelas. Sebentar-sebentar bahagia, sebentar-sebentar malah sakit jiwa, atau sebentar-sebentar lagi tertawa. Ayolah, ini terlalu lambat untuk galau selevel tingkat SMA, ya meskipun 18 tahun adalah masa nya tapi tolonglah. Aku mau masuk semester 4 dengan sekelumit masalah yang makin banyak dan aku harus bertengkar dengan diriku sendiri tiap hari ? KONYOL !!
Akhir-akhir ini juga aku terlampau sering bertengkar dengan diriku sendiri. Entahlah, yang jelas demikian. Aku bertengkar tak kenal waktu, tak kenal tempat. Banyak hal yang aku perdebatkan. Semisal, mengapa aku masih bertahan dan mengiyakan segala sesuatu yang terkadang selepas aku mengerjakannya aku malah menggerutu ? Atau mungkin kenapa aku masih bersifat kekanak-kanakan sedang aku masih harus belajar sangat banyak untuk menjadi dewasa ? Atau juga kenapa sampai sekarang aku masih menunda-nunda untuk membayar janji kepada seseorang ? Janji yang sudah aku buat bertahun-tahun yang lalu sedang sampai sekarang sedikitpun belum bisa terbayarakan.  Atau juga mungkin kenapa harus sekanak-kanak ini aku menghadapi masalah ? Bukan menghadapi tapi terkadang malah menghindar atau bersembunyi. Atu kalau pun aku (terpaksa) menghadapinya, aku hadapi dengan menangis atau merajuk tidak jelas. Persis seperti kanak-kanak 5 tahun saat tak dibelikan es krim. Atau juga mungkin kenapa aku lebih sering mengeluh sedang temanku tidak ? Kenapa aku masih belum bertanggung jawab atas sesuatu ? Kenapa mesti menunggu untuk disuruh dahulu baru bisa bertindak ? Mungkin ibu benar, selamanya aku akan tetap bebal, akan tetap binal juga nakal. Dan juga, akhir-akhir ini aku merindukan ibu, aku merindukan ayah, dan aku merindukan Rani. Tapi juga aku merindukan kamu, sebab beberapa hari ini kita sangat jarang bertemu. (Bodoh !!)
Akhir-akhir ini, sebenarnya ada satu hal yang sangat mengganggu ku lebih dari pertengkarang yang kulakukan dengan diriku sendiri meski untuk hal ini aku juga bertengkar dengan diriku sendiri. Hal yang sangat menggangu sebab aku kira ini adalah muara dari pertengkaran-pertengkaran kecil ku dengan diriku sendiri serta ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini tersa begitu mengganggu.
“Aku ingin pergi. Aku ingin pergi dari kamu dan tak ingin meyusahkanmu tapi aku akan kembali lagi kepadamu atau mungkin aku ingin kembali pada hatimu yang entah milik siapa. Entahlah, akhir-akhir ini aku merasa sangat bersalah  kepadamu. Setelah aku pikir-pikir lagi, mengingat semua hal yang pernah aku lakukan, aku terlampau banyak menyusahkanmu, aku terlampau banyak merepotkanmu, dan aku terlampau banyak membuatmu merasa serba tak enak, mersa serba salah. Sungguh kali ini aku benar-benar merasa tidak enak kepada mu. Aku ingin pergi namun tidak sebenar-benar pergi. Aku bingung harus mengutarakan nya bagaimana tapi yang jelas aku ingin pergi dan akan kembali lagi sampai apa yang aku cari dapat aku temukan. Pergi bukan berarti aku menyudahi perasaan ini. Membuang semua memori purba beberapa waktu silam tanpa memungutnya kembali. Perasaan dan hatiku akan tetap begitu. Aku ingin pergi sementara, maksud ku aku ingin meninggalkan sejenak kisah ini. Aku ingin pergi, sungguh aku ingin. Ya meskipun aku yakin aku akan kesusahan sekali untuk pergi, tapi niatku sudah bulat untuk pergi sementara. Aku memang pergi tapi tidak sebenar-benar pergi. Aku masih selalu akan mengganggu mu dengan tulisan ku lalu dengan ketidakjelasan perasaan ku kepada mu. Namun yang jelas, aku akan meninggalkan sejenak apa yang sering aku lakukan. Semisal jika kamu ada di suatu tempat aku berusaha untuk tidak kesana sampai batas waktu yang sudah aku tentukan. Sejenak aku memang ingin pergi. Pergi dan kembali lagi kepadamu atau mungkin aku ingin kembali pada hatimu yang entah milik siapa. Aku ingin pergi sebab aku menyayangi kamu. Aku pergi bukan berarti aku membenci kamu. Tidak, jangan pernah berpikiran seperti ini. Aku pergi sebenarnya juga untuk kamu. Semuanya ada kaitan nya dengan kamu. Ada hal yang harus aku lakukan dan ciptakan sebelum aku kembali. Karena alasan itu lah aku ingin pergi dan ingin secepatnya kembali. Jangan berfikiran macam-macam ketika aku nanti bertingkah seperti orang bodoh, bertingkah seperti acuh atau bagaimanapun nanti. Tetaplah menjadi laki-laki baik dan tetaplah menjadi dirimu sendiri. Kita sudah baik-baik saja bukan ? Jadi jangan tinggalkan aku, jangan diamkan aku lagi, dan jangan berubah sedikit pun. Ini permintaan dan wujud keegoisanku saat ini. Aku minta kamu jangan pergi. Mungkin disini jugalah aku memintamu untuk menunggu seperti yang aku sebutkan bebrapa waktu lalu. Entahlah. Tapi, ingatlah, dan harus kau ingat aku pergi tapi bukan sebenar-benar pergi. Aku menyayangimu.